Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Diena San Fauziya, M.Pd.

Artikel Umum

“Improvisation in ESL Pedagogies: Collaborative Learning Takes Center Stage” dan “Production and Publication”

Dipublikasikan pada : 7 Agustus 2017. Kategori : .

Kuliah tamu ini dilaksanakan Kamis, 27 Juli 2017 di ruang sekretariat magang dosen, Gedung Rektorat Lantai 11 Unesa. Yang menjadi narasumber adalah David Ross, Ph.D. dari McGill University didampingi oleh Ragga dan Wahid dari Tim Manuscript Unesa. Pertemuan ini terdiri atas dua sesi. Sesi pertama mengenai improvisasi dalam pembelajaran bahasa dan yang kedua mengenai publikasi dalam jurnal ilmiah.


Foto bersama dengan pemateri, Mr. David Ross

Conversation is more important than grammar
Mr. David menekankan bahwa setiap hari kita berbicara. Ketika kita mengajarkan siswa untuk belajar, kita mengajarkan mereka ilmu pengetahuan dan itu adalah hal yang bersifat dinamis. Setiap waktu ilmu pengetahuan itu berkembang sehingga ketika belajar, siswa tidak hanya membutuhkan buku semata. Jadi, apa yang kita ajarkan dalam pembelajaran bahasa tidak hanya meliputi kompetensi melainkan juga performansi; bukan semata mentransfer informasi, melainkan juga bagaimana membuat mereka mampu berkomunikasi.

What the best practice? Bukan tentang buku dan menyerap isinya, melainkan act, bertindak. Aturan itu memang ada, kurikulum itu pedoman, tapi dalam mengimplementasikannya, kita bebas berkreasi dan berinovasi. Sebagai contoh, menggunakan jilbab itu aturan, tapi memilih gayanya, modelnya, warnanya, panjangnya, itu bergantung pada kita. Begitupun ketika belajar mengajar bahasa. Grammaris rules, tapi performansi itu kreativitas.
Dalam proses pembelajaran, Mr. David menekankan bahwa kita harus berimprovisasi. Mengapa harus berimprovisasi? Karena improvisasi mengajarkan kita bertoleransi, berkolaborasi, bergerak maju, membaurkan kesalahan. Improvisai adalah penggabungan antara proses dan produk. Improvisasi berfokus pada konteks, perwujudan, perhatian, dan keterlibatan.

Pembelajaran itu masalah belajar. Jangan teralu terbatas pada script. Jika pembelajaran terus-terusan berpaku pada script maka kemungkinan yang dipelajari justru hanyalah sedikit. Setiap materi dalam pembelajaran harus melalui proses diskusi. Guru tidak bisa terus-terusan terpaku pada script sehingga terus-terusan memberikan materi, materi, dan materi tanpa mengecek apakah materi itu memang dipahami dan dapat diaplikasikan atau tidak. Melalui improvisasi, materi-materi yang dipelajari akan sangat mudah dipahami dan akhirnya dapat sangat bermakna untuk siswa.

Mr. David juga menekankan bahwa guru bukanlah buku. Untuk mempelajari buku, siswa dapat melakukannya di rumah. Guru adalah fasilitator, guru dan siswa memanfaatkan kelas untuk berdiskusi, berinteraksi, bukan semata untuk membaca buku atau terpaku pada buku. Melalui pembelajaran seperti itu, belajar tidak lagi sebatas mengetahui informasi, melainkan juga bagaimana membangun dan menciptakan karakter positif. Mengikuti kurikulum iya, tetapi juga kita harus membuka diri untuk dapat menerapkan tuntutan-tuntutan itu dalam kehidupan. Belajar akan lebih baik melalui interaksi.

Production and Publication
Selain memberikan kuliah mengenai pembelajaran bahasa, Mr. David juga memberikan kuliah mengenai penulisan dan publikasi. Menulis dan mempublikasikan tulisan di jurnal adalah hal yang harus dilakukan. Apalagi, untuk dosen, publikasi harus dilakukan di jurnal internasional. Maksud dari tuntutan itu adalah untuk membangun keterampilan menulis dan tentu saja agar para dosen melakukan dan meningkatkan kegiatan penelitian sehingga akhirnya dapat mempublikasikan hasil penelitian.

Tips-tips yang diuraikan oleh Mr. David mengenai publikasi jurnal ilmiah meliputi format penulisan dan konten tulisan.
Berikut ini informasi yang diperoleh mengenai tips dalam format penulisan.
1. Which journal you want to publish?
Kita harus tahu kemana kita akan mempublikasikan artikel kita. Maksudnya adalah kita harus mengikuti aturan-aturan main (gaya selingkung) yang berlaku pada jurnal tersebut.
2. Need have a good spelling (grammar)
Kita juga harus cermat dalam tata bahasa. Pengelolan jurnal tidak bertugas untuk merapikan dan memperbaiki bahasa kita. Untuk itu kita harus menggunakan bahasa dengan baik dan benar. Untuk tata bahasa kita bisa memanfaatkan spell check dalam Microsoft Word, tetapi itu juga harus dicermati lagi karena terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita maksud.
3. Literature riview
Maksudnya adalah kita harus sangat teliti dalam menuliskan tinjauan pustaka dan sumber-sumbernya. Untuk penelitian, kita tentu saja sangat membutuhkan referensi dan penelitian-penelitian sebelumnya. Kita juga harus teliti dalam memilih format style untuk sistem sitasinya, apakah dengan APA atau MLA.

4. Copy the style from the journal you want to publish
Poin ini berhubungan dengan poin pertama, yakni mengenai ketaatazasan dalam aturan penulisan. Untuk mengikuti ketentuan yang diberlakukan jurnal yang kita tuju maka sebaiknya kita menyalin template jurnal dan menulis sesuai dengan template tersebut.

5. Endnote: program that helps you how to cites
Dengan program endnote, kita akan lebih mudah untuk melakukan sistem pengutipan.

6. Create a manuscript team in your campus
Tips terakhir yang juga menjadi catatan penting adalah akan lebih baik jika kita memiliki tim penulisan di kampus kita. Melalui tim ini kita dapat bekerja sama dan saling menyempurnakan tulisan kita.

Sementara itu, terkait dengan konten tulisan, berikut ini informasi yang disampaikan Mr. David.
1. What is inside of the paper
Kita harus betul-betul memperhatikan apa isi tulisan kita. Bukan semata-mata kita menulis, tetapi apa yang kita tulis itu memang sesuatu yang harus dan layak ditulis.

2. What should you publish your article? Why a journal should publish your article?
Untuk isi tulisan yang akan dipublikasikan, kita tentu harus mengetahui apa yang kita tulis dan mengapa jurnal itu harus mempublikasikannya. Intinya adalah kita harus menuliskan sesuatu yang penting dan layak untuk dipublikasikan.

3. Something “NEW”
Apa yang kita tulis (apa yang kita teliti) sebaiknya mengandung unsur kebaruan.

4. Reading many articles in English
Untuk mempublikasikan artikel dalam jurnal ilmiah tentu kita harus menggunakan bahasa Inggris. Dengan demikian, membaca banyak artikel berbahasa Inggris akan membangun keterampilan bahasa Inggris kita.

5. Be clear what you want to research
Konten yang baik tentu berisi uraian yang jelas. Dengan demikian, kita harus menjelaskan dengan spesifik tentang apa yang kita teliti.

6. The title should be atrractive
Yang pertama dibaca adalah judul. Maka dari itu kita harus membuat judul dengan menarik.

7. Choose the keyword carefully
Bagian yang akan menentukan apakah tulisan itu penting atau tidak salah satunya kata kunci. Kata kunci juga akan mempermudah pembaca menemukan tulisan kita. Maka, kita harus memilih kata kunci dengan hati-hati dan tepat dengan isi yang kita tulis.

8. Abstract: around 250 word
Abstrak itu mencerminkan keseluruhan isi. Pembaca tidak perlu membaca semua artikel untuk menemukan apakah tulisan itu sesuai dengan yang ia perlukan atau tidak. Maka dari itu, kita harus membuat abstrak dengan jelas, meski begitu panjang abstrak kurang lebih hanya 250 kata saja.

9. What you need to do? Speak your abstract in English in your groups
Untuk membuat tulisan yang jelas, kita harus diskusi dengan teman. Caranya saling lontarkan pertanyaan tentang tulisan kita dan coba jawab hingga argumen terbangun dengan kuat kemudian uraikan dalam abstrak dengan bahasa Inggris.

10. Take each of your chapters in your research project and write for publication
Untuk publikasi, kita tidak harus mencantumkan semua bagian yang kita tulis dalam laporan. Maka dari itu, kita harus mengambil bagian-bagian penting yang mewakili masing-masing bab dalam laporan untuk dipublikasikan.

Kuliah tamu Guest Lecture
Magang Dosen Dikti 2017